Scrupulous Conscience

Bapa,
demikianlah kami (para
pendosa) terlampau khusyuk
mendoakan hari depan.

Hingga musim yang
buruk telah menangguhkan
sebuah percakapan.

“Benarkah, yang tak kenal masa lalu
tak kenal juga dosa?”

“Tapi kami tetap lapar dan menangis, Petruskha”

Sementara rasa sakit, seperti cuaca
yang terus lewat di atas sana
dan aroma hangus ladang-ladang gandum,
tungku-tungku pemanas hanyalah warta kosong.

“O Bapa,
Dan ternyata cintalah sesuatu yang tak ada
sebab satu kehidupan berarti kematian lain.”

Tiba-tiba kami memahami
―yang lupa.

Nop 2011 ~ Feb 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s